Mengikis kesombongan

Penulis:(Sarah Handayani)

Sombong berpangkal pada ujub. Hati yang ujub tinggal selangkah menjadi sombong. Mengikis kesombongan sangat penting bagi keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Dari ujub lahir kesombongan dan dari kesombongan lahir banyak keburukan yang nyata. Ujub adalah kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Misalnya, ujub terhadap ibadah yang telah dilakukannya, ujub terhadap usaha yang sudah diupayakan, dan hal lain yang terkait dengan kebanggaan terhadap apa yang telah dilakukan dirinya sendiri. Karenanya Ujub tidak menuntut adanya orang yang diujubi. Bila hanya ada satu orang saja di dunia ini. Ujub tetap mungkin muncul.
Sementara Rasulullah saw mendefinisikan kesombongan sebagai ‘melecehkan orang dan menolak kebenaran’. Artinya, kesombongan merupakan persoalan yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat sekaligus berhubungan dengan Allah swt. Dengan kata lain, sombong menuntut adanya orang yang disombongi dan hal yang dipakai untuk bersombong. Misalnya, menyombongkan kekayaan, kecantikan, kepintaran kepada orang lain.

Perangai batin
Jenis kesombongan ada dua, yaitu zahir dan batin. Kesombongan zahir adalah perbuatan yang lahir dari anggota badan. Sedangkan kesombongan batin adalah perangai di dalam jiwa. Namun, Said Hawwa, seorang ulama besar di Mesir, dalam bukunya ‘Mensucikan Jiwa’, berpendapat bahwa istilah kesombongan lebih tepat sebagai perangai batin, karena amal perbuatan merupakan hasil dari perangai tersebut. Bila perangainya nampak di dalam anggota badan disebut berlaku sombong (takabbur). Bila tidak nampak maka disebut sebagai kesombongan (kibr).

Banyak perbuatan yang timbul dari kesombongan. Semakin besar kesombongan di dalam hati, maka semakin nyata bentuknya. Kesombongan dapat berwujud ingin selalu dihormati dan mendapat pelayanan serta tempat yang istimewa, tidak mau memulai mengucapkan salam terlebih dahulu, tidak mau mendengar nasihat untuk dirinya sendiri, jika ucapannya dibantah ia akan marah, memandang rendah orang lain dan lain-lain.

Kesombongan biasanya disebabkan karena orang menganggap dirinya besar. Anggapan ini didasarkan pada keyakinan akan kesempurnaan diri sendiri. Menurut Said Hawwa, setidaknya ada tujuh hal yang seringkali menjadi penyebab kesombongan, yaitu karena ilmu pengetahuan, amal dan ibadah, nasab keturunan, kecantikan, harta kekayaan, kekuatan dan keperkasaan, adanya pengikut atau pendukung.

Pihak yang disombongi
Secara umum, ada tiga pihak yang disombongi oleh seseorang, yaitu Allah, para Rasul dan seluruh makhluk ciptaan Allah. Pertama , sombong kepada Allah swt. Sombong kepada Allah swt adalah bentuk kesombongan yang paling keji karena seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw, ia termasuk kategori menolak kebenaran.

Salah satu contoh sombong kepada Allah swt adalah seperti yang dilakukan oleh Fir’aun. Orang yang sombong kepada Allah swt mendapat kepastian akan balasan neraka jahanam sebagaimana yang Allah swt tegaskan di dalam firmannya surat Fathir ayat 60, yaitu “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepadaku, mereka akan masuk neraka jahanam dengan hina dina.”

Kedua , sombong kepada para Rasul. Bentuk kesombongan kepada para Rasul adalah keengganan jiwa untuk mematuhi dan meneladani kehidupan mereka. Salah satu bentuk kesombongan kepada para Rasul adalah seperti yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy yang enggan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Kesombongan mereka terekam di dalam Al Quran surat Az Zukhruf ayat 31, yaitu “ Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaif) ini?”

Adapun Fir’aun sombong terhadap Allah swt sekaligus terhadap para RasulNya. Sebagaimana diungkapkan Allah swt di dalam Al Quran pada beberapa ayat berikut ini. “Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan dengan kami: Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita tidak melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan ) kezhaliman.”(Al Furqon : 21). Dalam surat Az Zukhruf ayat 53 Fir’aun mengatakan “Atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya.”

Ketiga , sombong kepada seluruh makhluk ciptaan Allah swt. Bentuk kesombongan kepada makhluk ciptaan Allah swt yaitu menganggap diri lebih terhormat dan melecehkan orang lain sehingga tidak mau patuh terhadap mereka, meremehkannya dan tidak mau sejajar dengan orang lain. Sikap tersebut sesungguhnya bertentangan dengan firman Allah swt dalam hadits qudsi berikut ini, “Kebesaran adalah kain sarungKu dan kesombongan adalah kain selendangku. Barangsiapa melawan Aku pada keduanya niscaya Aku menghancurkannya.”

Pengikis kesombongan
Karena kesombongan termasuk hal yang membinasakan seluruh amalan perlu upaya serius untuk mengikis kesombongan yaitu dengan pengobatan kesombongan. Said Hawwa mengelompokkan ada dua kelompok dalam pengobatan untuk mengikis kesombongan ini. Pertama , pengobatan yang mengikis habis akar kesombongan dan mencabut pohonnya. Kedua, pengobatan untuk menolak kesombongan dengan faktor-faktor khusus yang dipakai manusia untuk menyombongkan dirinya dengan orang lain.

Sebagai terapi untuk mengikis kesombongan ada lima latihan yang dapat dilakukan :

Latihan pertama, berupaya untuk dapat menerima pendapat orang lain, ikhlas menerima kritik dan nasihat dari orang lain. Jika suatu kebenaran terungkap dari lisan temannya kemudian ia merasa berat untuk menerimanya, mematuhi atau mengakui, maka kemungkinan di dalam dirinya ada kesombongan yang tertimbun. Ia harus takut kepada Allah swt karena hal itu dan berupaya untuk menghilangkannya. Ingatlah, bahwa kesombongan tidak layak kecuali bagi Allah swt.

Latihan kedua, berupayalah untuk mendahulukan orang lain, seperti berjalan di belakang mereka, mendahulukan orang untuk mendapatkan giliran. Bila hal ini masih berat untuk dilakukan maka ia harus berupaya untuk menghilangkan rasa keberatan tersebut.

Latihan ketiga , penuhilah undangan orang miskin dan membantu keperluannya. Bila hal ini masih berat, maka berupayalah untuk menghilangkan keberatan tersebut dengan terus mengupayakan latihan tersebut sampai keberatan tersebut hilang.

Latihan keempat, lakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh ‘bawahan’ untuk diri anda sendiri, seperti membuatkan minum, membawakan tas dan keperluan lainnya, membersihkan rumah atau tempat kerja. Masih adakah keengganan dan keberatan anda terhadap pekerjaan tersebut?

Latihan kelima, pakailah pakaian buruk. Karena keengganan jiwa memakai pakaian buruk di hadapan umum merupakan riya’ sedangkan di tempat sepi merupakan kesombongan.

Sesungguhnya, kesombongan merupakan penghalang masuknya seorang hamba ke dalam surga. Mengikis kesombongan di dalam hati setiap manusia menjadi suatu upaya yang senantiasa harus dilakukan setiap hamba yang beriman. Wallahu alam bishawab.

http://www.ummigroup.co.id/ummi/lengkap.php?id=75

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s